GELIAT POLITIK ISLAM INDONESIA KINI DAN NANTI


Perkembangan partai politik Islam saat ini cukup mengesankan dibandingkan saat era orde baru. Namun se-impresif itu kah partai dengan ideologi Islam dalam perpolitikan Indonesia pasca orde baru?

Dari perspektif historis komparatif, Muslim Indonesia secara politik menjadi lebih pragmatis dan rasional. Asumsi ini jelas perlu dasar untuk mempertahankan validitasnya. Penulis menganggap bahwa tidak ada ukuran yang lebih tepat untuk mengevaluasi sikap religius-politik Muslim Indonesia selain pemilihan umum (Pemilu). Sejak kemerdekaan, rakyat Indonesia telah melalui beberapa Pemilu, empat di antaranya secara demokratis: pada 1955, 1999, 2004, dan 2009. Dengan memperbandingkan keempat Pemilu ini, kita mendapatkan gambaran yang sangat berbeda tentang Islam Indonesia. Alih-alih menjadi makin ideologis, sikap religius-politik Muslim Indonesia malah makin pragmatis. Tiga Pemilu terakhir jelas-jelas menunjukkan bahwa partai-partai politik Islam gagal memperbaiki rapor yang mereka capai pada 1955 (43%). Secara keseluruhan, pada ketiga Pemilu itu, partai-partai Islam hanya meraih kurang dari 20% dari total suara yang diperebutkan, begitu juga dengan pemilu 2014 dan 2019 kemarin, 2014 partai Islam jika digabungkan hanya memperoleh 31% kemudian tahun 2019 turun (30%).

Pertanyaan yang sering terpikir adalah mengapa partai-partai Islam di Indonesia kalah dalam perjuangan mereka untuk memenangi demokrasi. Mengapa agenda Islam di tingkat negara seringkali gagal diterapkan? Juga, terlepas dari semua pencapaian itu, mengapa makin banyak saja jumlah kelompok puritan Islam. Jika melihat skala global negara-negara yang mayoritas muslim seperti Yordania (1989), Aljazair (1990), Turki (1995), dan Mesir (2005) berhasil memenangkan pemilu. Walaupun kita mengetahui bersama ada peran penting yang dimainkan rezim Soeharto selama 30 tahun terakhir, tetapi perubahan politik Muslim Indonesia bukan hanya disebabkan pemerintahan Soeharto yang menjalankan roda pemerintahan dengan represif, melainkan juga karena peran penting intelektual Muslim, terutama dikalangan santri yang yakin akan doktrin perubahan dan kemajuan yang diam-diam mendukung modernisasi rezim itu. Generasi baru santri juga cukup berpengaruh terhadap konsep fundamental seperti dasar negara, negara Islam, dan partai Islam yang terus dikaji dan didiskusikan meskipun mendapat respon keras oleh para senior mereka. Karena lebih terdidik dan terlatih baik dalam ilmu agama maupun sekular, generasi santri baru ini sangat sukses dalam mematahkan argumen-argumen senior mereka mengenai isu-isu fundamental.

Jika melihat survei The Republic Institute tentang perilaku memilih masyarakat Jawa Timur yang dilakukan pada bulan September lalu, hanya partai PKB satu-satunya partai Islam yang bertengger dipuncak klasmen lima besar. Bagaimana dengan partai-partai Islam lain? mereka ada dan berlipat ganda namun untuk bertarung secara ketat, parta-partai tersebut cukup kesulitan karena Jawa timur merupakan salah satu basis Islam modernis dan kultural. Karakteristik masyarakat pluralisme cukup banyak dijumpai terutama di kota-kota pelabuhan, agama hanya dianggap sebagai kebutuhan batiniah,, hubungan individu dengan tuhannya. Akibatnya partai-partai diluar nama Islam bisa bergerak bebas, membagikan ide dan gagasan politik mereka tanpa membawa embel-embel Islam. Seperti studi kasus yang terjadi di Kampung Nelayan Kraksaan Probolinggo, mayoritas masyarakat di kampung tersebut adalah pemeluk agama Islam dan berasal dari suku Madura yang terkenal taat beragama, akan tetapi suara partai Islam cukup kecil pada kampung tersebut karena mereka menganggap partai Islam saat ini sangat statis perkembanganya, hanya mendompleng nama besar Islam untuk memperoleh dukungan politik. Studi kasus di Probolinggo ini mungkin belum bisa dijadikan patokan saklek, akan tetapi ini adalah gambaran kasar bagaimana pandangan masyarakat menilai partai Islam saat ini, hal serupa juga terjadi di Sidoarjo terutama di kalangan akar rumput yang tidak terikat dengan organisasi dan lsm terafiliasi dengan partai. Secara garis besar, partai islam gagal merebut hati masyarakat secara sukarela dan ikhlas, ini merupakan sebuah tamparan sendiri bagi partai politik Islam agar tidak menjadi partai yang memiliki pemikiran culas dan anti-antian agar mendapatkan perhatian publik secara luas.

(AR)


Comments

Popular posts from this blog

ADAM UBER ALLES

Sumpah Pemuda & Semangat Jiwa Zaman