Sumpah Pemuda & Semangat Jiwa Zaman
Pada masa pra kemerdekaan para pemuda di tanah air Indonesia giat bekerja dalam berbagai organisasi kedaerahan dan gigih berjuang dalam gerakan politik. Walaupun tujuan mereka sama, yaitu Indonesia merdeka, mereka masih terikat pada kepentingan daerahnya masing-masing. Untuk menghindari perpecahan akhirnya para pemuda dari berbagai penjuru tanah air yang diwakili oleh organisasi pemuda daerah seperti: Jong Java, Jong Soematra, Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batak Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpunan Peladjar Indonesia mengikrarkan diri untuk bersatu demi bangsa dan bernegara.
Tujuan Kongres Pemuda II antara lain: (1) Melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda Indonesia, (2) Membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda; serta (3) Memperkuat kesadaran kebangsaan dan meyakini persatuan Indonesia. Peserta Kongres Pemuda II akhirnya bersepakat merumuskan tiga janji yang kemudian disebut Sumpah Pemuda, adapun tiga pokok Sumpah Pemuda yaitu bertanah air satu, berbangsa satu dan menjunjung bahasa persatuan. Semangat Sumpah Pemuda ini merupakan cikal bakal menjadi semangat jiwa zaman pemuda saat itu untuk terbebas dari belenggu kolonialisasi yang akhirnya terwujud Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Banyak nilai-nilai positif yang dapat diambil dalam Sumpah Pemuda untuk diterapkan dalam kehidupan, terutama semangat zaman para pemuda saat itu yang melawan pemikiran-pemikiran tradisional. Mereka menolak kenyamanan demi cita-cita mewujudkan bangsa agar terbebas dari rantai penjajahan. Nilai patriotisme, gotong-royong, musyawarah untuk mencapai mufakat, cinta tanah air, kekeluargaan, persatuan dan kerukunan serta tanggung jawab merupakan nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. Seharusnya Sumpah Pemuda dapat menjadi inspirasi pemuda saat ini untuk membawa negara ini menuju kearah yang lebih baik, menurunkan ego pribadi. Perjuangan masa sekarang memang tidak harus memegang senjata untuk melawan, tetapi musuh kita saat ini berupa kebodohan, kemiskinan struktural dan ketidakadilan yang melanda negeri ini.
(AR)
Comments
Post a Comment