ADAM UBER ALLES
Siapa yang tidak tahu Ndarboy Genk dengan lagu Mendung Tanpo Udan nya yang cukup fenomenal? Rugi lah kalian jika belum pernah mendengarkan. Karena Mendung Tanpo Udan ini harusnya bisa menjadi kritikan bagi kaum Adam untuk tidak melanggengkan bias gender. Dalam lagu itu menceritakan kegagalan sebuah hubungan akibat pria punya bayangan membaca koran dan sarungan, sedangkan wanita belanja menggunakan daster sendirian. Mungkin sebagian khalayak umum menganggap ini hal yang remeh, didukung dengan ajaran agama yang mewajibkan wanita mengurusi domestik atau reproduksi, tapi pernakah kalian berpikir bahwasanya wanita tidak selalu pintar urusan domestik. Lihat saja chef ternama yang sering muncul di televisi kita, apakah dominan wanita?
Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan lagu tersebut, jujur saja lagunya enak dan sudah menjamur di kepala saya akibat masifnya teman, warkop, dan medsos yang memutarnya pada setiap jengkal kehidupan. Namun saya skeptis apakah mereka-mereka yang mendengarkan lagu tersebut pernah berpikir bahwa membaca koran dan sarungan sangat melukai hati wanita yang sedang gigih menawar harga sayur dan ikan agar tercukupi kebutuhan rumah tangga lainnya, mengapa tidak berbelanja bersama agar semakin romantis dan mengurangi subordinasi pria dan wanita. Subordinasi adalah suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Mungkin kalian akan melontarkan kritik kepada saya bahwa ini hanya lagu, tapi secara tidak sadar lagu merupakan representasi bagian dari cerita, kebiasaan, dan realita kehidupan kita. Maka dari itu jika lagu ini sangat relate terhadap kehidupan kalian berarti secara tidak langsung, kalian sedang menghadapi realita sosial, memaklumi keberlangsungan bias gender secara nyata di Indonesia, melanggengkan subordinasi dan double burden. Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang oleh salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Kalian boleh marah atau membalas tulisan ini setelah membacanya, namun tidak akan merubah apapun bahwa kita masih di Indonesia yang masih populer dengan gaya patriarki, dan baca koran sarungan+kopi buatan istri adalah kenikmatan duniawi meskipun buatan sendiri jelas lebih enak karena tidak menyusahkan orang lain atas cita rasa kita sendiri~
Comments
Post a Comment